Equityworld Futures | Harga Emas Koreksi Brutal, Pakar Sebut Ini Bukan Akhir Tren
Equityworld Futures | Aksi jual tajam yang menekan harga emas dan perak dalam beberapa hari terakhir dinilai sebagai hal yang tak terelakkan setelah reli eksplosif sepanjang Januari. Meski pergerakan harga terlihat mengejutkan, para analis menegaskan bahwa tren jangka panjang logam mulia masih tetap utuh.
Dikutip dari Kitco, harga emas dan perak masing-masing anjlok hampir % dan 30% pada akhir pekan lalu. Penurunan ini terjadi tak lama setelah kedua komoditas tersebut mencetak rekor kenaikan harian terbesar dalam sejarah.
Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 5.595,46 per ons troi pada Kamis (29/1/2026) dan telah melonjak 29,5% sepanjang Januari. Sementara itu, perak sempat menyentuh rekor tertinggi di atas US$ 121 per ons, dengan kenaikan bulanan mencapai 68,5%.
Analis menilai laju kenaikan setajam itu, terlebih terjadi di bulan pertama tahun ini, sulit untuk dipertahankan.
“Kami melihat volatilitas yang luar biasa tinggi di pasar logam dalam beberapa hari terakhir,” ujar Head of Metals Britannia Global Markets Neil Welsh sembari menambahkan, koreksi saat ini sebenarnya sudah dapat diprediksi mengingat kecepatan dan besarnya reli Januari.
“Emas dan perak sudah berada pada kondisi teknikal yang terlalu panas. Kenaikan mendekati 20% untuk emas dan lebih dari 40% untuk perak, ditambah tingginya posisi spekulatif, leverage, dan aktivitas opsi, merupakan ciri khas puncak jangka pendek,” kata Welsh.
Hal senada diungkapkan Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen, menyebut lonjakan bulanan yang ekstrem membuat kondisi perdagangan semakin sulit dan likuiditas menipis.
“Pergerakan hari ini memang terlihat ekstrem, tetapi jika ditarik ke rentang satu minggu, ini sebenarnya masih tergolong normal bagi pasar emas yang belakangan berubah sangat emosional, mirip perak,” ujar Hansen.
Director of Gold and Silver Metals Focus Matthew Piggott menyebut, reli Januari sebagai bentuk irrational exuberance. Meski koreksinya tergolong tajam, ia menilai penurunan ini justru menyehatkan pasar.
Meski tekanan jual sangat besar, mayoritas analis sepakat bahwa koreksi ini belum merusak tren kenaikan jangka panjang. Banyak pihak memperkirakan pelemahan harga justru akan dimanfaatkan investor untuk kembali masuk ke pasar.
Welsh bahkan percaya tren besarnya masih tetap utuh. Faktor makro yang mendorong emas, perak, dan tembaga masih sangat kuat. “Ini lebih menyerupai koreksi posisi di tengah tren naik, bukan akhir dari siklus. Logam mulia berpeluang tetap solid hingga 2026, meski dengan rentang pergerakan harga yang lebih lebar,” tambahnya

