EQUITYWORLD FUTURES JAKARTA | Top 3: Belanja Rokok Warga RI Lebih Besar Dibanding Susu
Berikut ini tiga artikel terpopuler atau Top 3 di kanal bisnis Liputan6.com pada Senin (12/10/2026).
PT. Equityworld Futures Pusat Sahid Sudirman Center Jakarta
PT. Equityworld Futures didukung dengan total karyawan lebih dari 5000 staf di seluruh Indonesia. PT Equityworld Futures telah memiliki 8 kantor cabang yang tersebar di Indonesia
Berikut ini tiga artikel terpopuler atau Top 3 di kanal bisnis Liputan6.com pada Senin (12/10/2026).
Rencana Kemenkes membatasi bahan kandungan tambahan dan perisa produk tembakau, dinilai bisa berdampak pada peredaran rokok ilegal yang turut mempengaruhi Industri Hasil Tembakau (IHT).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Peredaran rokok ilegal dinilai berdampak terhadap kinerja industri hasil tembakau (IHT) legal hingga penerimaan negara dan daerah. Tekanan tersebut juga berpotensi merembet ke penyerapan tenaga kerja serta...
Salah satu hal mendasar yang disoroti adalah perlunya Kementerian Kesehatan melibatkan seluruh pemangku kepentingan lintas sektoral agar kebijakan yang dihasilkan berimbang.
Pemerintah rencanakan kemasan polos untuk produk tembakau, namun DPR RI soroti dampak ekonomi dan tenaga kerja, Kebijakan perlu kajian mendalam.
Pengamat menilai aturan penyeragaman kemasan rokok berpotensi mengganggu ekosistem pertembakauan, memicu PHK, dan meningkatkan peredaran rokok ilegal.
Kebijakan kemasan rokok polos dinilai berisiko mengganggu industri hasil tembakau (IHT), mengancam tenaga kerja, hingga memicu maraknya peredaran rokok ilegal.
Kemasan berkembang dari pelindung produk menjadi alat komunikasi yang menyampaikan identitas, kualitas, dan karakter sebuah merek.
Perusahaan rokok global British American Tobacco (BAT) akan memangkas sekitar 9.000 tenaga kerja sebagai bagian dari transformasi bisnis menuju perusahaan berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Usulan produksi rokok murah untuk masyarakat menengah ke bawah menuai penolakan dari berbagai kalangan karena dinilai berpotensi memperparah tren downtrading dan mengganggu stabilitas penerimaan negara.