Equityworld Futures | Harga Minyak Tiba-Tiba Memanas Lagi, Israel Jadi Biang Kerok
Equityworld Futures | Melansir data Refinitiv pada perdagangan Senin (1/6/2026) pukul 07.45 WIB, harga minyak mentah dunia mencatatkan penguatan yang signifikan.
Harga minyak mentah Brent terpantau melesat ke level US$93,15 per barel, mencatatkan kenaikan kuat setelah pekan sebelumnya sempat mengalami tekanan hingga 10%.
Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak menguat secara substansial ke posisi US$89,62 per barel.
Lonjakan harga komoditas energi yang melampaui 2% ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas, sehingga menepis ekspektasi pasar akan adanya penyelesaian konflik secara damai dalam waktu dekat.
Eskalasi Konflik Bergeser ke Lebanon
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini memasuki fase yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap pasar. Konflik yang sebelumnya berpusat pada ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini secara nyata bergeser menjadi konfrontasi terbuka antara Israel dan Lebanon.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi telah menginstruksikan militernya untuk memperluas manuver darat ke wilayah Lebanon selatan, mengabaikan kerangka gencatan senjata yang telah didiskusikan lebih dari enam pekan lalu. Langkah agresif ini ditujukan untuk menekan infrastruktur militer dan kekuatan kelompok Hizbullah.
Dalam operasi darat terbarunya, pasukan Israel dilaporkan telah merebut Kastel Beaufort yang strategis dan terus bergerak lebih jauh ke arah utara menuju Sungai Zaharani.
Operasi militer yang kian intensif ini praktis memupus harapan akan keberhasilan perundingan damai yang dimediasi oleh Washington, terutama setelah perwakilan kedua belah pihak gagal memformulasikan kesepakatan akhir pada akhir pekan lalu.
Ancaman Pasokan di Selat Hormuz
Eskalasi pertempuran ini secara langsung memberikan ancaman terhadap stabilitas rantai pasokan energi global. Kekhawatiran para pelaku pasar tidak hanya bersumber dari peperangan darat di Lebanon, melainkan juga meningkatnya risiko keamanan di jalur maritim.
Terdapat sejumlah laporan mengenai potensi penambahan ranjau laut di kawasan Selat Hormuz, jalur perairan krusial yang menjadi urat nadi bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembersihan dan normalisasi rute pelayaran strategis ini akan memakan waktu yang cukup lama, bahkan jika kesepakatan politik antara pihak-pihak yang bertikai pada akhirnya tercapai.
Kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah ini menjadi sentimen utama yang mengendalikan arah pasar minyak, hingga mampu mengesampingkan rilis data ekonomi dari China yang menunjukkan perlambatan aktivitas manufaktur pada akhir pekan lalu.
Profil Perusahaan
Ilustrasi Transaksi
Legalitas Bisnis
Hubungi Kami
