0 0
Read Time:3 Minute, 35 Second

Equityworld Futures | Harga Emas Terus Menguat, Dolar AS Melemah Jadi Pemicu Utama

Equityworld Futures | Pasar komoditas menunjukkan optimisme terhadap pergerakan harga emas meskipun terjadi koreksi jangka pendek. Peningkatan harga minyak yang terus mendorong inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga global menjadi faktor yang memengaruhi dinamika ini. Pada Kamis, 9 April 2026, harga emas melonjak lebih dari 1% seiring dengan melemahnya dolar Amerika Serikat.

Para investor juga tetap waspada terhadap perkembangan gencatan senjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Ketidakpastian geopolitik sering kali mendorong permintaan akan aset safe haven seperti emas.

Dikutip dari Investor Daily, analis komoditas di State Street Investment Management, yang dipimpin oleh Aakash Doshi, memperkirakan bahwa harga emas memiliki peluang 50% untuk mencapai kisaran US$ 4.750 hingga US$ 5.500 per troy ons hingga akhir tahun 2026. Meskipun demikian, mereka juga mengurangi ekspektasi optimistis sebelumnya.

Awalnya, perusahaan investasi tersebut memiliki keyakinan 35% bahwa harga emas bisa menyentuh US$ 5.500 hingga US$ 6.250 per troy ons. Namun, angka ini direvisi turun menjadi 30%.

Para analis State Street menyatakan bahwa level US$ 4.000 – US$ 4.100 per troy ons akan bertahan sebagai batas bawah pasar. Mereka juga memprediksi bahwa rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) harga emas berpotensi diuji ulang hingga tahun 2027.

Aksi jual emas dan konsolidasi pasar pada Maret lalu dinilai tidak mengejutkan. Hal ini mengingat pergeseran sentimen di pasar keuangan global setelah pecahnya konflik antara AS-Israel dengan Iran. Walaupun demikian, State Street menyarankan investor untuk tetap fokus pada tren jangka panjang emas, alih-alih ekspektasi suku bunga jangka pendek.

Koreksi harga emas pada Maret 2026 sebagian besar dipengaruhi oleh penyesuaian suku bunga Federal Reserve dan imbal hasil riil yang tinggi. Kondisi ini mendukung penguatan dolar AS, seperti dijelaskan oleh analis State Street.

Penyesuaian tersebut mungkin bukan akibat dari runtuhnya permintaan emas global yang didorong kekhawatiran penurunan nilai mata uang atau alokasi ke mata uang fiat alternatif. Oleh karena itu, investor disarankan untuk berhati-hati terhadap tekanan siklus dibandingkan dinamika struktural yang dinilai tetap positif untuk emas.

Menurut data Reuters, harga emas spot naik 1,6% menjadi US$ 4.789,67 per ons pada Kamis pukul 13.30 ET (17.30 GMT). Angka ini tercapai setelah pada sesi sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga pekan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,9% menjadi US$ 4.818,00.

Pelemahan indeks dolar AS menjadi faktor pendorong utama kenaikan harga emas. Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. “Dolar yang melemah telah membantu emas kembali menguat, tetapi pasar masih berhati-hati karena pelaku pasar mencoba menafsirkan apa arti gencatan senjata ini,” kata Bob Haberkorn, seorang senior market strategist di RJO Futures.

Harapan penurunan suku bunga The Fed juga menjadi sentimen positif. Ketika inflasi mulai terkendali atau menunjukkan tanda-tanda penurunan, The Fed kemungkinan akan melonggarkan kebijakan moneternya. Suku bunga yang lebih rendah membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor karena tidak memberikan bunga seperti instrumen keuangan lainnya.

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga memberikan dorongan bagi harga emas. Biaya untuk memegang emas menjadi lebih ringan ketika imbal hasil obligasi menurun, sehingga meningkatkan minat investor terhadap logam mulia ini.

Morgan Stanley memprediksi bahwa harga emas akan stabil selama kuartal kedua, sebelum kembali menguat pada paruh kedua tahun 2026. “Jika kenaikan suku bunga The Fed dapat dihindari, kami menilai emas bisa kembali menguat, sementara penyelesaian konflik juga akan mendukung, kemungkinan mengembalikan fokus pada pelemahan nilai mata uang fiat,” tambah Morgan Stanley.

Di tengah kondisi tersebut, pasar juga menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Maret yang dijadwalkan pada Jumat, 10 April 2026. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, naik 2,8% dalam 12 bulan hingga Februari, sesuai perkiraan, dan kemungkinan meningkat lebih lanjut pada Maret.

Faktor-faktor lain yang memengaruhi harga emas adalah ketidakpastian global seperti kondisi ekonomi, politik, dan perang yang membuat investor beralih ke emas sebagai safe haven. Permintaan dan penawaran juga memegang peranan penting, di mana harga cenderung naik saat permintaan meningkat dan turun ketika penawaran lebih tinggi dari permintaan.

Pergerakan harga perak spot naik 2,9% menjadi US$ 76,24 per ons. Sementara itu, platinum naik 3,8% menjadi US$ 2.106,01, dan paladium naik tipis 0,3% menjadi US$ 1.558,75.

Profil Perusahaan
Ilustrasi Transaksi
Legalitas Bisnis
Hubungi Kami

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By ewfssc

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *