Equityworld Futures | Harga Emas Naik di Atas 2%, Dipicu Harapan Gencatan Senjata Iran dan AS
Equityworld Futures | Harga emas dunia naik di atas 2% pada awal perdagangan Rabu (8/4/2026). Kenaikan itu seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi gencatan senjata selama dua pekan di Timur Tengah, yang diharapkan menjadi jalan menuju kesepakatan damai permanen.
Dikutip dari Kitco, sentimen positif ini dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut pemerintahannya telah menyetujui gencatan senjata sementara sambil meninjau proposal perdamaian dari Iran.
Harga emas hari ini terlihat melonjak 2,32% ke level US$ 4.815,15 per ons troi, berhasil menembus level resistance penting di US$ 4.800 per ons troi. Analis menilai, jika tren penguatan berlanjut, target berikutnya berada di kisaran US$ 5.000 per ons.
Tak hanya emas, harga perak juga ikut melonjak lebih dari 4% dan menembus level US$ 76 per ons.
Dalam unggahan di media sosial, Trump mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai cukup solid sebagai dasar negosiasi. Ia menambahkan, sebagian besar perbedaan antara kedua negara telah menemukan titik temu.
“Kami percaya proposal ini dapat menjadi dasar negosiasi. Periode dua pekan akan memberi waktu untuk merampungkan kesepakatan,” tulis Trump.
Kabar tersebut langsung mendorong pergerakan pasar global. Kontrak berjangka indeks saham S&P 500 melonjak lebih dari 2%, mencerminkan meningkatnya minat risiko investor. Sebaliknya, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate crude oil justru anjlok hingga 18% akibat meredanya kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Analis menilai, potensi berakhirnya konflik dapat membuka ruang bagi bank sentral, termasuk The Fed, untuk mulai mempertimbangkan pemangkasan suku bunga pada akhir tahun.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, harga emas justru sempat tertekan meski ketegangan geopolitik meningkat. Dalam sebulan terakhir, harga emas tercatat merosot lebih dari 11%, penurunan bulanan terdalam sejak awal 1980-an.
Tekanan tersebut dipicu kebutuhan likuiditas investor dan bank sentral yang mendorong aksi jual emas. Selain itu, lonjakan inflasi juga meningkatkan ekspektasi suku bunga, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Di sisi lain, lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah sempat mendorong harga minyak menembus US$100 per barel, memicu gangguan rantai pasok global dan meningkatkan tekanan inflasi.
Meski gencatan senjata diperkirakan dapat meredakan tekanan tersebut, analis menilai dampak penuh terhadap ekonomi global masih belum dapat dipastikan.
Analis Senior Pepperstone Michael Brown mengatakan, fokus pasar kini akan bergeser pada dampak ekonomi dari konflik dan lonjakan harga energi, baik dari sisi inflasi maupun pertumbuhan.
Menurut dia, jika harga energi mulai stabil, bank sentral kemungkinan akan menganggap kenaikan inflasi sebagai fenomena sementara, sehingga mengurangi peluang pengetatan kebijakan dalam waktu dekat.
Namun, risiko tetap ada apabila gencatan senjata gagal bertahan.
“Jika konflik kembali memanas, pasar akan kembali ke pola sebelumnya, harga minyak naik, dolar AS menguat sebagai safe haven utama, sementara aset lain seperti saham, obligasi, dan logam mulia akan kembali tertekan,” ujarnya.
Profil Perusahaan
Ilustrasi Transaksi
Legalitas Bisnis
Hubungi Kami
