Equityworld Futures SSC Jakarta – Informasi terbaru terkait Kita Tidak Dilahirkan untuk Hidup, Kita Dilatih untuk Bertahan yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Dunia tidak dibangun oleh orang yang menikmati hidup tapi oleh orang yang terlalu keras kepala untuk mati.
Maka tantangan itu bukan untuk mengatasi kekurangan tapi untuk membuktikan apakah kita cukup keras kepala untuk tidak menyerah..
Orang yang kurang akan lebih mudah disuruh bertahan tanpa banyak menuntut.
Pada akhirnya hidup bukan tentang menemukan makna indah.
Maka kalimat jalani nikmati syukuri sering kali bukan motivasi tapi penenang darurat agar orang tidak banyak bertanya..
Keluarga mengajarkan bertahan bukan memahami.
Kita terlalu sering menipu diri sendiri dengan narasi hidup harus dinikmati.
Dan siapa pun yang menolak belajar bertahan hanya sedang menyiapkan diri untuk kalah dengan alasan paling romantis..
Maka benar adanya hanya orang tolol yang tidak bisa bertahan dalam hidup ini.
Kalimat ini sering terdengar seperti slogan murah tapi sebenarnya sangat kejam sekaligus jujur.
Maka berhentilah berpura pura hidup ini ramah.
Mereka disebut pejuang padahal mereka hanya tidak punya pilihan lain..
Hidup tentang tidak tumbang meski maknanya sering kabur.
Hidup ternyata tidak pernah bertanya apakah kita siap menikmatinya.
Dalam dunia seperti ini bertahan bukan pilihan.
Tidak ada kurikulum resmi tentang bahagia.
Semua itu disebut proses pendewasaan padahal lebih tepat disebut latihan bertahan hidup versi sosial..
Latihan berdamai dengan kenyataan bahwa usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil.
Tulisan dari Ardinos Aritonang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan.
Lingkungan mengajarkan menutup mulut bukan menyuarakan luka.
Hidup membutuhkan manusia yang tahan banting.
Pandangan bahwa kita dilahirkan untuk bertahan memang pahit.
Maka wajar jika muncul kesimpulan yang jauh lebih jujur.
Sejak kecil kita sudah diajari satu hal penting bukan cara hidup enak tapi cara tidak mati duluan.
Kekurangan bukan masalah tapi tantangan kata orang orang bijak.
Bukan pada seberapa bahagia ia hidup tapi seberapa lama ia mampu bertahan tanpa kehilangan kesadaran bahwa semua ini memang tidak adil..
Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas, Medan.
Lucunya sistem ini masih ingin terlihat mulia.
Menikmati hidup terdengar seperti hak universal padahal lebih mirip bonus langka.
Judul besar tentang hidup sering terdengar manis.
Orang yang kurang akan bekerja lebih keras.
Dan di dunia seperti ini kemungkinan itu sudah cukup mahal.
Seolah derita adalah lomba. Selain itu, hanya pemenang teratas yang berhak merasa sakit..
Kalimat kalimat ini dijual seperti brosur wisata.
Sekolah mengajarkan kompetisi bukan ketenangan.
Orang orang yang terus bangun meski tahu besok akan jatuh lagi.
Ia hanya menawarkan kemungkinan tetap hidup.
Hidup tidak membutuhkan manusia yang bahagia.
Kekurangan memang bukan masalah bagi sistem.
Orang orang yang terus berjalan meski tahu jalannya salah.
Menjalani hidup berarti menerima bahwa setiap hari adalah latihan.
Hidup langsung menampar sejak bangun pertama kali.
Bersyukur bukan berarti menyangkal sakit tapi mengakui bahwa meski sakit kita masih berdiri..
Kita tidak dilahirkan untuk hidup dengan nyaman.
Siapa yang mampu berdiri paling lama dialah yang disebut sukses.
Terlepas dari bagaimana caranya berdiri. Selain itu, apa yang harus dikorbankan..
Hidup digambarkan sebagai anugerah padahal perlakuannya seperti ujian tanpa kisi-kisi.
Padahal kenyataannya hidup lebih sering dijalani sambil menahan napas.
Menikmati hidup bukan berarti tertawa terus menerus tapi mampu menertawakan absurditasnya.
Di titik ini bersyukur berubah fungsi dari rasa terima kasih menjadi alat pembungkam yang sangat efisien.
Indah di awal tapi tidak bertanggung jawab pada kenyataan.
Mampu menyadari betapa ironisnya dunia yang meminta kita kuat tapi tidak pernah memberi waktu istirahat.
Saya Ardinos Aritonang, saya mahasiswa di Universitas Katolik Santo Thomas.
Yang ada hanya pelajaran bagaimana tidak tumbang.
Tapi justru di situlah nilai manusia diuji.
Setiap hari kita diuji tanpa tahu apa soalnya.
Hal ini disebabkan oleh bodoh secara intelektual tapi karena menolak belajar dari kenyataan bahwa hidup tidak peduli pada perasaan sehingga Tolol bukan.
Perkembangan terkait Kita Tidak Dilahirkan untuk Hidup, Kita Dilatih untuk Bertahan akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Sumber artikel: Sumber Asli
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar. Informasi yang disajikan tidak merupakan rekomendasi investasi.
Informasi Resmi PT Equityworld Futures:
Perhatian: Trading futures mengandung risiko kerugian. Sebelum memulai trading, pastikan Anda memahami risikonya. Performa masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Baca juga:
- Kenapa Bayi Terkadang Hanya Mau Menyusu di Satu Sisi? Ini Penjelasannya
- Melihat Cuci Beras Otomatis Masjid Jogokariyan untuk 3.800 Porsi Takjil Gratis
