EWF | Gencatan Senjata Iran-AS: Rupiah Berpeluang Menguat, Emas Bisa Cetak Rekor
Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan menjadi katalis positif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
PT. Equityworld Futures Pusat Sahid Sudirman Center Jakarta
PT. Equityworld Futures didukung dengan total karyawan lebih dari 5000 staf di seluruh Indonesia. PT Equityworld Futures telah memiliki 8 kantor cabang yang tersebar di Indonesia
Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan menjadi katalis positif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Nilai tukar Rupiah Indonesia menguat signifikan pada perdagangan Rabu pagi, seiring meredanya tekanan eksternal akibat perkembangan geopolitik global.
Presiden AS Donald Trump menangguhkan serangan ke Iran selama dua pekan. Gencatan senjata ini syaratkan pembukaan Selat Hormuz dan picu penurunan harga minyak.
Pemerintah Iran menolak usulan gencatan senjata dalam perangnya dengan Amerika Serikat dan Israel.
Iran dilaporkan tidak merespons usulan gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan oleh Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Melansir dari data SIPRI, total pendapatan 100 perusahaan senjata terbesar dunia mencapai US$679 miliar atau Rp 11.536,21 triliun
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump mengeklaim Iran meminta gencatan senjata dengan syarat pembukaan Selat Hormuz. Teheran membantah keras klaim tersebut.
Swis resmi bekukan ekspor senjata baru ke AS demi jaga netralitas di tengah perang Iran. Bern juga tutup ruang udara bagi penerbangan militer Washington ke Timur Tengah.
Timur Tengah menjadi pasar senjata terbesar, menyerap 21% impor global. AS dominan sebagai pemasok utama, sementara Iran bergantung pada Rusia.