EWF | Trump & Keluarga Raup Rp 5,39 Triliun dari Bisnis di Timur Tengah
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan keluarga memperoleh US$ 300 juta atau sekitar Rp 5,39 triliun (Kurs 17.994/US$) dari bisnis di Timur Tengah.
PT. Equityworld Futures Pusat Sahid Sudirman Center Jakarta
PT. Equityworld Futures didukung dengan total karyawan lebih dari 5000 staf di seluruh Indonesia. PT Equityworld Futures telah memiliki 8 kantor cabang yang tersebar di Indonesia
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan keluarga memperoleh US$ 300 juta atau sekitar Rp 5,39 triliun (Kurs 17.994/US$) dari bisnis di Timur Tengah.
Kepala Disdikbud Kukar, H. Heriansyah, menekankan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama pendidikan anak usia dini demi mewujudkan Generasi Emas 2045.
REPUBLIKA.CO.ID, BANYUWANGI -- Kesulitan ekonomi masih menjadi salah satu penghambat utama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk melanjutkan pendidikan. Merespons hal tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di bawah naungan...
Gebrakan Shanghai dimulai 2015, salah satu pusat ekonomi terbesar di dunia dimana seluruh anggota keluarga inti dari para pejabat pemerintah -mulai dari istri, suami, anak, hingga menantu- dilarang menjalankan bisnis.
Arab Saudi menjadi rumah bagi miliarder dengan kekayaan dari sektor beragam. Temukan daftar keluarga terkaya dan kontribusi mereka dalam ekonomi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Minyak goreng terbaik menjadi pilihan banyak orang untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Saat ini, tersedia berbagai jenis minyak goreng dengan keunggulan berbeda sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Jika...
Amerika Serikat memperketat tekanan terhadap Kuba dengan menjatuhkan sanksi baru kepada Presiden Miguel Diaz-Canel dan keluarga Castro di tengah krisis energi.
Keluarga Trump dikenal sebagai salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh di dunia dengan gaya hidup mewah yang kerap menjadi sorotan publik.
Polisi hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik (labfor) dan visum sebelum memastikan penyebab meninggalkanya korban.
Laporan UBS mengungkap 60% family office dunia merombak portofolio, mengurangi aset AS, dan beralih ke pasar berkembang akibat risiko geopolitik.